Merentasi Laut China Selatan: Bukan Sekadar Perjalanan, Tapi Amanah yang Dipikul
Orang kata aku beruntung. "Bestnya kerja kau, asyik travel je. Seronok kan dapat jalan-jalan atas tiket kerja?" Aku hanya senyum. Tidak menafikan — ya, benar, aku pernah berdiri di pantai-pantai asing sambil menikmati matahari terbenam, menaiki pesawat sebelum fajar menyingsing, dan menikmati kopi di bandar yang sebelumnya hanya kulihat dalam peta. Tapi yang mereka tidak tahu — setiap langkah itu diiringi beban yang tidak selalu ringan. Setiap kali aku mengharungi Laut China Selatan — dari Kuching ke Kuala Lumpur, dari satu destinasi ke satu lagi — aku tidak bawa sekadar bagasi pakaian. Aku membawa tanggungjawab. Aku membawa amanah organisasi, harapan pasukan, dan tekanan untuk menyampaikan hasil yang bukan sekadar cukup, tetapi bermakna. Kadang-kadang, penatnya bukan pada badan. Tapi pada jiwa. Tidur tak menentu, makan sekadar sempat, berfikir tanpa henti. Di saat orang lain menikmati waktu malam di hotel, aku masih merangka ayat, menyusun strategi, atau menghubungi pasukan ...